Aktivis perdamaian berkebangsaan Amerika Serikat Rachel Corrie, baru berusia 23 tahun ketika sebuah buldoser Israel melindas tubuhnya pada 16 Maret 2003. Tujuh tahun kemudian, sebuah kapal pengangkut bantuan kemanusiaan yang dinamai sesuai namanya, MV Rachel Corrie, siap melanjutkan jejaknya membantu rakyat Palestina.
Ketika dia masih berusia umur 5 tahun sudah menunjukkan sifat kepeduliannya. Dan hal seperti ini yang patut ditiru dan dibanggakan.
Tidak perlu menjadi rakyat suatu negara untuk bisa berempati terhadap penderitaan mereka. Hal itu dibuktikan Corrie, seorang aktivis asal Olympia,Washington, AS yang menjadi martir ketika berusaha memblokade jalur dua buldoser dan satu tank Israel, yang akan menghancurkan perumahan lokal Palestina, Samir Nasrallah.
Bungsu dari tiga bersaudara yang menjadi anggota International Solidarity Movement (ISM) tersebut, terbunuh di Jalur Gaza selatan di Kota Rafah, saat sebuah buldoser militer Israel dengan sengaja meluncur tepat ke arahnya dan melindas tubuhnya. Menurut seorang dokter bernama Ali Mussa yang merawatnya, Corrie tewas dengan luka-luka di kepala dan kaki.
''Ia sedang berada di jalan yang akan dilalui buldoser tersebut. Jelas-jelas pengemudi buldoser itu melihatnya dan langsung menabraknya. Dia terlindas di bawah kendaraan itu,'' kisah Joseph Smith, seorang rekan aktivisnya.