Sebuah harmoni antara Palang Merah Indonesia (PMI),
Palang Merah Amerika (Amcross), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dapat
dirasakan dampaknya pada bulan April 2016. Tiga buah karya berupa infografis
dan videografis kerjasama antara PMI dan ITB telah diluncurkan pada 22 April
2016. E-book atau infografis tersebut berjudul sebagai berikut : 1. Potensi
Kebencanaan Iklim, 2. Kapasitas Adaptif, dan 3. Kerentanan Iklim. Karya bersama
ini dipublikasikan bersamaan dengan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April
2016.
Hasil riset Institut Teknologi Bandung tertuang dalam
buku tersebut. Salah satu isi buku tersebut memaparkan pengembangan smart climate change model memproyeksikan
curah hujan, temperatur, dan analisis parameter tersebut di wilayah Bogor,
Depok, dan Jakarta. Bogor memiliki temperatur terendah, Jakarta bertemperatur
tertinggi dan depok diantara keduanya. Dibandingkan Depok dan Jakarta, Bogor
memiliki curah hujan tertinggi. Hal ini disebabkan oleh faktor lokal hujan
orografi karena berada antara 3 gunung (Gunung Salak, Pangrango, dan Gunung
Gede).
Pada riset ini juga memproyeksikan cadangan air tanah,
tutupan lahan, dan konsumsi penduduk terhadap air tanah berpengaruh pada
kerentanan cadangan air di Jakarta. Menurut hasil proyeksi, Jakarta utara
adalah daerah tingkat kerentanan cadangan air tanah paling tinggi. Selain itu,
Jakarta Utara sebagai daerah yang bersinggungan langsung dengan Laut Jawa juga
mendapat ancaman kenaikan muka laut. Hasil simulasi menggunakan pndekatan IPCC
dan subsidence menunjukkan bahwa kenaikan muka berada di wilayah Penjaringan,
Pademangan, Tanjung Priok, Cengkareng, dan Tambora menjadi daerah dengan
tingkat rendaman air laut paling tinggi pada 2100.
Hasil riset tersebut mendukung salah satu program
Palang Merah Indonesia yaitu Program Pengurangan Resiko Terpadu Berbasis
Masyarakat (PERTAMA) di wilayah perkotaan yang telah dimulai sejak tahun 2012
hingga 2017. PMI meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat di sepanjang
DAS Ciliwung, satu dari 13 sungai besar yang melintasi Jakarta.
Dengan momentum peringatan Hari Bumi, 22 April, Palang
Merah Indonesia (PMI) dengan dukungan Palang Merah Amerika (Amcross)
bekerjasama dengan pemerintah daerah Kabupaten Bogor dan Jakarta Utara serta
komunitas Ciliwung dan Masyarakat, menggagas RUWAT BUMI, kegiatan peduli
Ciliwung melalui susur sungai dan aksi bersih sungai untuk menggugah kesadaran
pemangku kepentingan dan masyarakat untuk menjaga bumi, Ciliwung, dan
ekosistemnya.
Dua wilayah yang terdapat dalam hasil riset smart
climate change model tadi, Kabupaten Bogor (Desa Sukahati, Karadenan,
Pondok Rajeg, Kedung Waringin) dan Jakarta Utara (Kelurahan Ancol, Penjaringan
dan Pademangan) melalui kegiatan pelatihan ancaman, kerentanan, dan kapasitas,
perencanaan aksi Masyarakat, upaya peningkatan kesadaran Masyarakat dan
mitigasi struktural skala kecil. Hari Sabtu pada 23 April 2016, rangkaian
kegiatan ruwat bumi PMI bersama masyarakat dilaksanakan di dua tempat terpisah
yaitu dari Kelurahan Karadenan sampai dengan Pondok Rajeg di Kabupaten Bogor
dan dari RW 4 Ancol sampai dengan RW 1 Ancol.
Gambar 1. Persiapan di Lokasi titik awal Ruwat Bumi Kab, Bogor
(Sumber : BloggerVolunteerPMI)
Kegiatan Ruwat Bumi PMI di Kabupaten Bogor dimulai
pukul 07.00 pagi, diawali berkumpul di Markas PMI Kabupaten Bogor. Setelah
pengarahan lapangan yang dipimpin oleh Kang Nadi, seluruh relawan TSR
menggunakan 2 mobil pickup sebagai menuju lokasi Karadenan yang ditetapkan
sebagai titik awal Ruwat Bumi PMI. Ruwat Bumi PMI mempunyai
rangkaian acara berupa susur sungai, pengambilan sampah, pembuatan lubang
biopori, penebaran benih ikan air tawar, penanaman bibit tanaman, pembuatan
taman vertikal, sosialisasi upaya peningkatan kesadaran Masyarakat melalui
edukasi Masyarakat dan siswa sekolah, percontohan unit pengolahan sampah dan
bank sampah.
Kegiatan
Ruwat Bumi PMI Kabupaten Bogor diawali dengan pembukaan dan sambutan dari
berbagai pihak yang mengapresiasi kegiatan ini. Beberapa sambutan dari
perwakilan Palang Merah Indonesia, Palang Merah Amerika, perwakilan pemerintah
provinsi Jawa Barat, dan perwakilan pemerintah Kabupaten Bogor. Setelah itu
dilakukan penyerahan tanaman secara simbolis, penyerahan piagam kepada pihak
swasta yang bekerjasama dalam kegiatan ini yaitu PT. Meiden dan PT. Liquidstar,
serta pelepasan tim susur sungai Ciliwung.
Gambar 2. Penyerahan piagam kepada parner kerjasama PT. Liqudstar
(Dokumentasi pribadi)
Gambar 3. Pelepasan tim susur sungai, berfoto dengan tim #yoman
(Dokumentasi pribadi)
Kegiatan susur sungai Ciliwung di Kabupaten Bogor dimulai
sekitar pukul 09.00 WIB. Perjalanan menggunakan perahu karet dari
pos awal hingga akhir menghabiskan waktu sekitar 2,5 – 3 jam. Perahu karet
melintasi beberapa titik kegiatan yang diinisiasi dalam Program PERTAMA seperti
pada pos pertama, pengambilan sampah disekitar sungai dan pengumpulannya; pos
kedua, pembuatan lubang biopori; pos ketiga, sosialisasi upaya peningkatan
kesadaran Masyarakat melalui edukasi Masyarakat dan siswa sekolah; pos terakhir,
pembuatan taman vertikal, dan percontohan unit pengolahan sampah dan bank
sampah.
Gambar 4. Pengambilan dan Pengangkutan sampah di area aliran sungai (Pos 1)
(Dokumentasi pribadi)
Gambar 5. Penebaran benih ikan air tawar di sungai Ciliwung
(Dok. pribadi)
Gambar 6. Pembuatan lubang biopori di Desa Kedung Waringin (Pos 2)
(Dok. pribadi)
Seluruh titik/pos pemberhentian menjadi edukasi kepada masyarakat untuk turut serta aktif dalam penjagaan lingkungan dan antisipasi bencana di sekitar sungai Ciliwung.
Pada kegiatan ini, kita sebagai Masyarakat, kita dapat berkontribusi dalam upaya merawat bumi, alam, dan sungai secara nyata. Upaya yang dapat dilakukan sebagai berikut :
- Tidak membuang sampah di sungai;
- Melakukan pemilihan sampah dan mengelola sampah secara mandiri;
- Menanam pohon dan memperbanyak lubang biopori untuk perluasan daerah resapan air;
- Melakukan pembersihan sungai dan saluran air secara rutin, tidak mendirikan bangunan di pinggir aliran sungai; dan
- Latih kesiapsiagaan diri dan masyarakat secara mandiri
Gambar 7. Sosialisasi peningkatan kesadaran Masyarakat terhadap hidup sehat dan siaga bencana (Pos 3)
(Dok. pribadi)
Gambar 8. Salam sejajar setelah susur sungai Ciliwung
(Dok. pribadi)
Gambar 9. Kebun vertikal di Sukahati Composting Centre
(Dokumentasi BloggerVolunteerPMI)
Selain kegiatan ruwat bumi bersama PMI yang menarik sepanjang susur sungai ini, pada saat mengarungi sungai juga terdapat beberapa ilmu yang baru saya ketahui karena ini merupakan pertama kalinya saya mendayung di perahu karet, berikut :
1. Cara memegang dayung
Gambar 10. Cara memegang dayung
2. Keberadaan batu 'pillow' di tengah sungai
Batu ini dapat menjadi manfaat saat kita butuh berhenti ditengah sungai, namun dapat jadi membahayakan saat terkena batu tersebut secara tidak sengaja dan dapat mengubah arah perahu karet yang kita jalani.
Gambar 11. Batu pillow di tengah sungai Ciliwung
3. Edis (pinggiran sungai)
Pinggiran sungai dapat menjadi tempat pemberhentian sementara untuk perahu karet melakukan lanjutan perjalanan. Selain itu, jika di pinggiran sungai terdapat dahan jatuh menjulur ke air, sebaiknya tidak melawan dengan memegang dahan tersebut, namun biarkan kita melewatinya dengan merunduk dan sebagainya. Hal ini akan lebih aman untuk diri sendiri dan rekan lain yang duduk di belakang kita.
Gambar 12. Pinggiran sungai 'Edis'
4. Safety first.
Dari informasi mengenai saat susur sungai, sebelum itu semua yang terpenting adalah keamaan, baik untuk kapten perahu maupun penumpang dan pendayung. Sehingga kelengkapan pelampung dan helm merupakan suatu kewajiban sebelum memulai susur sungai. Menarik bukan semuanya?
Gambar 13. Pengarahan pentingnya keamaan perlengkapan susur sungai
(Dok. pribadi)
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih atas keseruan perjalanan susur sungai bersama tim #yoman dalam perahu #yoman, yaitu Kapten Bang Gofar, Abdul TSR PMI, Putra, Ari, Egi, dan Destri. Tentunya kepada Palang Merah Indonesia, Terima kasih dan Salam Sukarelawan!
Kegiatan yang menyenangkan dan baik ini juga direkomendasikan dilakukan bersama masyarakat pada usia muda untuk
memperkenalkan dan menanamkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan semenjak
dini sehingga sudah menjadi kebiasaan pada masa remaja dan dewasa. #ruwatbumipmi
Mari terus
merawat Bumi tercinta! Kalau bukan kita, siapa lagi ? J























No comments:
Post a Comment