April 30, 2016

Harmoni Ruwat Bumi bersama PMI

Sebuah harmoni antara Palang Merah Indonesia (PMI), Palang Merah Amerika (Amcross), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dapat dirasakan dampaknya pada bulan April 2016. Tiga buah karya berupa infografis dan videografis kerjasama antara PMI dan ITB telah diluncurkan pada 22 April 2016. E-book atau infografis tersebut berjudul sebagai berikut : 1. Potensi Kebencanaan Iklim, 2. Kapasitas Adaptif, dan 3. Kerentanan Iklim. Karya bersama ini dipublikasikan bersamaan dengan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2016.
Hasil riset Institut Teknologi Bandung tertuang dalam buku tersebut. Salah satu isi buku tersebut memaparkan pengembangan smart climate change model memproyeksikan curah hujan, temperatur, dan analisis parameter tersebut di wilayah Bogor, Depok, dan Jakarta. Bogor memiliki temperatur terendah, Jakarta bertemperatur tertinggi dan depok diantara keduanya. Dibandingkan Depok dan Jakarta, Bogor memiliki curah hujan tertinggi. Hal ini disebabkan oleh faktor lokal hujan orografi karena berada antara 3 gunung (Gunung Salak, Pangrango, dan Gunung Gede).
Pada riset ini juga memproyeksikan cadangan air tanah, tutupan lahan, dan konsumsi penduduk terhadap air tanah berpengaruh pada kerentanan cadangan air di Jakarta. Menurut hasil proyeksi, Jakarta utara adalah daerah tingkat kerentanan cadangan air tanah paling tinggi. Selain itu, Jakarta Utara sebagai daerah yang bersinggungan langsung dengan Laut Jawa juga mendapat ancaman kenaikan muka laut. Hasil simulasi menggunakan pndekatan IPCC dan subsidence menunjukkan bahwa kenaikan muka berada di wilayah Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Cengkareng, dan Tambora menjadi daerah dengan tingkat rendaman air laut paling tinggi pada 2100.
Hasil riset tersebut mendukung salah satu program Palang Merah Indonesia yaitu Program Pengurangan Resiko Terpadu Berbasis Masyarakat (PERTAMA) di wilayah perkotaan yang telah dimulai sejak tahun 2012 hingga 2017. PMI meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat di sepanjang DAS Ciliwung, satu dari 13 sungai besar yang melintasi Jakarta.


Dengan momentum peringatan Hari Bumi, 22 April, Palang Merah Indonesia (PMI) dengan dukungan Palang Merah Amerika (Amcross) bekerjasama dengan pemerintah daerah Kabupaten Bogor dan Jakarta Utara serta komunitas Ciliwung dan Masyarakat, menggagas RUWAT BUMI, kegiatan peduli Ciliwung melalui susur sungai dan aksi bersih sungai untuk menggugah kesadaran pemangku kepentingan dan masyarakat untuk menjaga bumi, Ciliwung, dan ekosistemnya.

Dua wilayah yang terdapat dalam hasil riset smart climate change model tadi, Kabupaten Bogor (Desa Sukahati, Karadenan, Pondok Rajeg, Kedung Waringin) dan Jakarta Utara (Kelurahan Ancol, Penjaringan dan Pademangan) melalui kegiatan pelatihan ancaman, kerentanan, dan kapasitas, perencanaan aksi Masyarakat, upaya peningkatan kesadaran Masyarakat dan mitigasi struktural skala kecil. Hari Sabtu pada 23 April 2016, rangkaian kegiatan ruwat bumi PMI bersama masyarakat dilaksanakan di dua tempat terpisah yaitu dari Kelurahan Karadenan sampai dengan Pondok Rajeg di Kabupaten Bogor dan dari RW 4 Ancol sampai dengan RW 1 Ancol.

Gambar 1. Persiapan di Lokasi titik awal Ruwat Bumi Kab, Bogor
(Sumber : BloggerVolunteerPMI)

Kegiatan Ruwat Bumi PMI di Kabupaten Bogor dimulai pukul 07.00 pagi, diawali berkumpul di Markas PMI Kabupaten Bogor. Setelah pengarahan lapangan yang dipimpin oleh Kang Nadi, seluruh relawan TSR menggunakan 2 mobil pickup sebagai menuju lokasi Karadenan yang ditetapkan sebagai titik awal Ruwat Bumi PMI.  Ruwat Bumi PMI mempunyai rangkaian acara berupa susur sungai, pengambilan sampah, pembuatan lubang biopori, penebaran benih ikan air tawar, penanaman bibit tanaman, pembuatan taman vertikal, sosialisasi upaya peningkatan kesadaran Masyarakat melalui edukasi Masyarakat dan siswa sekolah, percontohan unit pengolahan sampah dan bank sampah.

       Kegiatan Ruwat Bumi PMI Kabupaten Bogor diawali dengan pembukaan dan sambutan dari berbagai pihak yang mengapresiasi kegiatan ini. Beberapa sambutan dari perwakilan Palang Merah Indonesia, Palang Merah Amerika, perwakilan pemerintah provinsi Jawa Barat, dan perwakilan pemerintah Kabupaten Bogor. Setelah itu dilakukan penyerahan tanaman secara simbolis, penyerahan piagam kepada pihak swasta yang bekerjasama dalam kegiatan ini yaitu PT. Meiden dan PT. Liquidstar, serta pelepasan tim susur sungai Ciliwung.
Gambar 2. Penyerahan piagam kepada parner kerjasama PT. Liqudstar
(Dokumentasi pribadi)
Gambar 3. Pelepasan tim susur sungai, berfoto dengan tim #yoman
(Dokumentasi pribadi)

Kegiatan susur sungai Ciliwung di Kabupaten Bogor dimulai sekitar  pukul 09.00 WIB. Perjalanan menggunakan perahu karet dari pos awal hingga akhir menghabiskan waktu sekitar 2,5 – 3 jam. Perahu karet melintasi beberapa titik kegiatan yang diinisiasi dalam Program PERTAMA seperti pada pos pertama, pengambilan sampah disekitar sungai dan pengumpulannya; pos kedua, pembuatan lubang biopori; pos ketiga, sosialisasi upaya peningkatan kesadaran Masyarakat melalui edukasi Masyarakat dan siswa sekolah; pos terakhir, pembuatan taman vertikal, dan percontohan unit pengolahan sampah dan bank sampah.
Gambar 4. Pengambilan dan Pengangkutan sampah di area aliran sungai (Pos 1)
(Dokumentasi pribadi)

Gambar 5. Penebaran benih ikan air tawar di sungai Ciliwung
(Dok. pribadi)

Gambar 6. Pembuatan lubang biopori di Desa Kedung Waringin (Pos 2)
(Dok. pribadi)

Seluruh titik/pos pemberhentian menjadi edukasi kepada masyarakat untuk turut serta aktif dalam penjagaan lingkungan dan antisipasi bencana di sekitar sungai Ciliwung.
Pada kegiatan ini, kita sebagai Masyarakat, kita dapat berkontribusi dalam upaya merawat bumi, alam, dan sungai secara nyata. Upaya yang dapat dilakukan sebagai berikut :
  1.   Tidak membuang sampah di sungai;
  2. Melakukan pemilihan sampah dan mengelola sampah secara mandiri;
  3. Menanam pohon dan memperbanyak lubang biopori untuk perluasan daerah resapan air;
  4. Melakukan pembersihan sungai dan saluran air secara rutin, tidak mendirikan bangunan di pinggir aliran sungai; dan
  5.  Latih kesiapsiagaan diri dan masyarakat secara mandiri

Gambar 7. Sosialisasi peningkatan kesadaran Masyarakat terhadap hidup sehat dan siaga bencana (Pos 3)
(Dok. pribadi)

Gambar 8. Salam sejajar setelah susur sungai Ciliwung
(Dok. pribadi)

Gambar 9. Kebun vertikal di Sukahati Composting Centre
(Dokumentasi BloggerVolunteerPMI)

Selain kegiatan ruwat bumi bersama PMI yang menarik sepanjang susur sungai ini, pada saat mengarungi sungai juga terdapat beberapa ilmu yang baru saya ketahui karena ini merupakan pertama kalinya saya mendayung di perahu karet, berikut :
1. Cara memegang dayung
Gambar 10. Cara memegang dayung
2. Keberadaan batu 'pillow' di tengah sungai
Batu ini dapat menjadi manfaat saat kita butuh berhenti ditengah sungai, namun              dapat jadi membahayakan saat terkena batu tersebut secara tidak sengaja dan                  dapat mengubah arah perahu karet yang kita jalani. 
Gambar 11. Batu pillow di tengah sungai Ciliwung
3. Edis (pinggiran sungai)
Pinggiran sungai dapat menjadi tempat pemberhentian sementara untuk perahu                 karet melakukan lanjutan perjalanan. Selain itu, jika di pinggiran sungai terdapat            dahan jatuh menjulur ke air, sebaiknya tidak melawan dengan memegang dahan               tersebut, namun biarkan kita melewatinya dengan merunduk dan sebagainya. Hal ini          akan lebih aman untuk diri sendiri dan rekan lain yang duduk di belakang kita. 

Gambar 12. Pinggiran sungai 'Edis'
4. Safety first.
Dari informasi mengenai saat susur sungai, sebelum itu semua yang terpenting adalah keamaan, baik untuk kapten perahu maupun penumpang dan pendayung. Sehingga kelengkapan pelampung dan helm merupakan suatu kewajiban sebelum memulai susur sungai. Menarik bukan semuanya?
Gambar 13. Pengarahan pentingnya keamaan perlengkapan susur sungai
(Dok. pribadi)

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih atas keseruan perjalanan susur sungai bersama tim #yoman dalam perahu #yoman, yaitu Kapten Bang Gofar, Abdul TSR PMI, Putra, Ari, Egi, dan Destri. Tentunya kepada Palang Merah Indonesia, Terima kasih dan Salam Sukarelawan! 

Kegiatan yang menyenangkan dan baik ini juga direkomendasikan dilakukan bersama masyarakat pada usia muda untuk memperkenalkan dan menanamkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan semenjak dini sehingga sudah menjadi kebiasaan pada masa remaja dan dewasa. #ruwatbumipmi
Mari terus merawat Bumi tercinta! Kalau bukan kita, siapa lagi ? J

No comments:

Post a Comment